dimensi dimensi komunikasi antar budaya
komunikasiantar budaya oleh: dra, hj. fatmawaty harahap, map . pokok bahasan 1. pendekatan psikologi sosial 2. pendekatan interpretatif 3. pendekatan kritis 4. kombinasi 3 dimensi diatas, bahwa sesuatu yang disebut realitas adalah dialektikal kita dapat mengatakan "ya" untuk
3 Budaya. Media massa juga menjadi alat kultural yang memuat produk budaya di mana seseorang berasal. D. Fokus Studi Komunikasi Internasional Fokus studi komunikasi internasional pada awalnya adalah studi tentang arus informasi antar negara-negara dan dalam perkembangannya muncul studi tentang propaganda.
Setiap mahluk hidup, baik itu hewan, tumbuhan dan tentunya manusia perlu berkomunikasi dengan indvidu atau kelompok individu lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia perlu berkomunikasi dengan sesamanya, untuk menunjukkan eksistensi dirinya dalam kehidupan bermasyarakat. Dilain pihak, kita juga mengetahui bahwa masyarakat merupakan kumpulan individu yang memiliki latar budaya yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, pada dasarnya komunikasi dan budaya tidak dapat antar budaya membicarakan metoda-metoda, variasi langkah dan cara yang digunakan manusia untuk berkomunikasi lintas sosial dengan sesamanya. Komunikasi antar budaya menyangkut komunikasi antar individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan individu atau antar kelompok yang memiliki latar kebudayaan yang berbeda. Misalnya berbeda ras, suku, etnik, ataupun kelas sosial baca juga Komunikasi Lintas Budaya.Kebudayaan yang berbeda menciptakan perbedaan pengalaman, nilai dan cara pandang seseorang terhadap dunia. Hal tersebut akan mempengaruhi prilaku komunikasi seseorang, menciptakan pola komunikasi yang berbeda antar suatu kelompok budaya yang satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu komunikasi antar budaya perlu dipelajari dengan tujuan agar dapat memahami perbedayaan budaya yang mempengaruhi komunikasi, mengindentifikasi kesulitan yang muncul, kemudian meningkatkan keterampilan verbal dan non verbal yang diperlukan agar komunikasi dapat berjalan secara efektif baca juga komunikasi non verbal.Berikut ini akan Pakar Komunikasi paparkan beberapa model komunikasi antar budaya menurut para ahli sebagai referensi anda dalam mempelajari komunikasi antar Model Komunikasi Antarbudaya Menurut Porter & Larry A. SamovarBudaya mempengaruhi prilaku komunikasi individu, budaya yang berbeda akan menghasilkan pengaruh serta sifat komunikasi yang berbeda pula. Ketika seorang individu berkomunikasi dengan individu lain yang memiliki kebudayaan berbeda maka makna pesan yang disampaikan komunikator akan berubah mengikuti persepsi budaya individu dengan budaya A menyampaikan pesan kepada individu dengan budaya B dan budaya C, dimana budaya A dengan budaya B memilki lebih banyak kemiripan sedangkan budaya C memiliki perbedaan yang cukup besar dibanding budaya A. Maka pesan yang diterima B hanya akan sedikit berubah, cukup mendekati pesan asli yang disampaikan oleh A, karena memiliki persepsi budaya yang mirip dengan A. Namun pesan yang diterima oleh C akan sangat berbeda, sebab dipengaruhi budaya yang sangat berbeda komunikasi mengenai eksistensi Tuhan yang dilakukan oleh individu yang beragama Kristen budaya A dengan individu yang beragama Islam budaya B. Keduanya akan sepakat bahwa Tuhan itu memang ada. Berbeda jika komunikasi mengenai eksistensi Tuhan dilakukan oleh individu beragama tersebut budaya A dengan seorang atheis budaya C. Maka komunikasi tidak akan efektif, sebab terdapat persepsi yang sangat berbeda mengenai keberadaan Tuhan, budaya A mengakui adanya Tuhan, namun budaya C tidak mengakui adanya Tuhan baca juga komunikasi yang efektif.2. Model Komunikasi Antar Budaya Menurut William B. Gudykunst dan Young Yun KimModel komunikasi antar budaya menurut William dan Young Yun Kim merupakan komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari budaya yang berlainan, atau orang asing. Dalam model ini, masing-masing individu berperan sebagai pengirim sekaligus juga penerima pesan. Dengan begitu, pesan yang disampaikan seseorang merupakan umpan balik untuk lawan bicaranya. Terjadi penyandian serta penyandian balik pesan. Gudykunst dan Kim menyatakan bahwa penyandian dan penyandian balik pesan tersebut merupakan sebuah proses interaktif. Proses tersebut dipengaruhi oleh filter konseptual seperti budaya, sosiobudaya, psikobudaya, dan faktor lingkungan. Persepsi seseorang atas lingkungannya mempengaruhi cara seseorang dalam menafsirkan rangsangan serta memprediksi prilaku orang lain baca juga komunikasi antar pribadi.3. Model Dimensi Waktu Dalam Komunikasi Antarbudaya Menurut Tom BruneauMenurut model ini waktu merupakan variable penting yang mendasari semua situasi komunikasi. Waktu menentukan hubungan, pola hidup antar manusia, dan pola hidup manusia tersebut dipengaruhi oleh budayanya. Dimensi waktu meliputi perbedaan konsepsi waktu dan tempo khusus dari tiap kelompok budaya prilaku temporal. Terdapat dua jenis konsep waktu, yaituWaktu Polikronik Konsep waktu Polikronik memandang bahwa waktu merupakan suatu putaran yang akan kembali dan kembali lagi. Orang yang menganut konsep ini beranggapan bahwa apa yang dilakukan di waktu ini, merupakan sesuatu yang bisa di perbaiki di waktu atau kesempatan lain. Misalnya ketika tidak belajar dengan baik sehigga mendapatkan nilai buruk, pelajar yang menganut konsep waktu polikronik akan berpikir dapat memperbaikinya di waktu lain baca juga paradigma komunikasi.Orang yang menganut konsep polikronik juga cenderung lebih mementingkan kegiatan yang terjadi dalam suatu waktu dibandingkan waktu itu sendiri. Cenderung lebih menekankan keterlibatan tiap individu serta penyelesaian suatu hal, dibanding menepati jadwal waktu. Misalnya seorang mahasiswa yang tetap bersikap santai meski jam kuliah sudah hampir mulai, sehingga meskipun tetap masuk kuliah, mahasiswa tersebut datang terlambat baca juga etika komunikasi.Waktu MonokronikKonsep waktu monokronik memandang bahwa waktu berjalan lurus dari masa lsilam ke masa depan. Orang yang menganut konsep ini cenderung lebih menghargai waktu itu sendiri, sehingga tidak ingin melewatkan waktu dengan hal yang sia-sia atau tidak berguna. Misalnya seorang pelajar yang menganut konsep waktu monokronik akan terus belajar dengan baik, agar dapat memperoleh nilai yang baik disetiap kesempatan. Atau seorang mahasiswa yang menganut konsep monokronik akan berusaha keras terburu-buru berlari agar tidak terlambat masuk kelas saat Waktu Dimensi waktu dalam komusikasi antar budayaWaktu dan perbedaan budayaMenurut Oswald Spengler, hal yang menyebabkan satu budaya di bedakan dari budaya yang lain adalah makna yang secara intuitif diterapkan pada waktu. Bagaimana analisis waktu, pewaktuan, dan tempo dalam suatu budaya membedakannya dengan budaya lainnya. Misalnya cara suatu budaya dalam menggunakan memori historisnya akan bersifat khas kultural baca juga teori interaksi simbolik.Futurisme dan komunikasi interkulturalSama seperti konsep perspektif masa lalu, konsep perspektif suatu budaya mengenai citra masa depan juga akan berbeda dengan budaya lainnya. Suatu budaya akan melakukan upaya intensif, mencari jalan baru, untuk mengembangkan cara berpikir yang lebih maju. Cara berpikir kedepan’ yang dihasilkan suatu budaya akan berbeda dengan budaya lainnya, sehingga menghasilkan jarak yang lebih besar antara budaya yang lebih cepat mengembangkan visi masa depannya dengan budaya yang cenderung lambat dalam lalu lintas budayaKemacetan lalu lintas budaya dapat terjadi karena adanya frame, pengalaman, serta budaya yang sangat berbeda antara budaya yang satu dengan yang lainnya baca juga teori komunikasi antar budaya.Mengatur waktu timing dan menjaga waktu timekeeping di antara budaya –budayaMenyangkut bagaimana dan sejauh mana obyektifitas waktu yang digunakan sebuah budaya. Bagaimana cara-cara waktu time devices, metode menjaga waktu, dan formulasi waktu yang objektif dalam suatu budaya baca juga elemen elemen komunikasi. Contohnya, inti pacu dalam budaya industri adalah keteraturan waktu. Jam merupakan mesin kunci, ritme dalam menjalani suatu kegiatan diatur oleh jam. Berbeda dengan budaya tradisional yang tidak memandang jam sebagai pengatur hidup,tempo budaya, dan komunikasi interculturalterdapat berbagai jenis waktu yang membentuk sistem seseorang, yaitu waktu biologis, waktu fisiologis, waktu perseptual, waktu objektif, waktu psikologis, waktu sosial, dan waktu kultural. Tingkatan waktu ini saling bergantung satu samalainnya, dan bagaimana interaksi antar tingkatan waktu ini dalam diri seseorang akan menjadi kronemika’ prilaku orang tersebut baca juga teori perbandingan sosial.Taksonomi lingkungan waktutaksonomi dikembangkan sebagai usaha persial untuk mendefinisikan kronemika prilaku manusia. Digunakan unruk menganalisis dan menelaah prilaku waktu dan lingkungan waktu dari interaksi manusia. Bebepa hal yang berhubungan dengan konsep waktu ini antara lain dorongan waktu temporal drives, petunjuk waktu temporal signals, perkiraan waktutemporal estimates, sinyal waktu temporal signals, lambang waktu temporal symbols, motif waktu temporal motives, kepercayaan waktu temporal beliefs, penilaian waktu temporal judgments, dan nilai waktu temporal values.Demikian artikel mengenai model komunikasi antar budaya ini. Komunikasi antar budaya merupakan komunikasi yang dilakukan antara suatu individu atau kelompok dengan individu ataupun kelompok lain yang memiliki kebudayaan yang berbeda dengannya atau kelompoknya. Kperbedaan prilaku komunikasi seseorang akan dipengaruhi oleh budayanya, sehingga diperlukan pemahaman budaya agar komunikasi antarbudaya dapat berjalan secara efektif baca juga strategi komunikasi efektif.Terdapat beberapa model komunikasi antar budaya menurut para ahli, diantaranya model komunikasi antar budaya menurut E. Porter & Larry A. Samovar, model komunikasi antar budaya menurut William B. Gudykunst dan Young Yun Kim; dan model dimensi waktu dalam komunikasi antarbudaya menurut Tom kata Semoga artikel ini bisa memberikan informasi yang anda butuhkan. Jika ada pertanyaan, penambahan, atau komentar yang membangun, silahkan tinggalkan pesan, dan jangan lupa berbagi ya jika anda merasa artikel ini bermanfaat!^^
FakultasIlmu Komunikasi Universitas Islam Bandung Indonesia staf pengajar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom Unisba). Dilahirkan di Majalengka, 18 November 1963. Lulusan Jurusan Humas Ilmu Komunikasi Unisba (1988) ini menyelesaikan program magisternya pada BKU. Ilmu Komunikasi Program Pascasarjana Unpad (2000).
Menurut Kim sebagaimana dikutip Lusiana Lubis, bahwa dari tema-tema pembicaraan tentang komunikasi antarbudaya, ada tiga dimensi yang perlu diperhatikan, sehingga terlihat jelas berbagai konseptualisasi tentang kebudayaan komunikasi dan integritas komunikasi. a. Tingkat masyarakat kelompok budaya dari partisipan komunikasi. Istilah kebudayaan telah digunakan untuk merujuk pada macam-macam tingkat lingkungan dan kompleksitas dari organisasi sosial. Umumnya istilah kebudayaan mencakup etnis, ras, dan sebagainya. Dalam hal ini, perhatian dan minat para ahli komunikasi antarbudaya banyak meliputi komunikasi antar individu-individu dengan kebudayaan nasional berbeda atau antar individu dengan kebudayaan ras etnik berbeda. Bahkan ada yang lebih mempersempit lagi pengertian pada kebudayaan individual karena seperti orang mewujudkan latar belakang yang unik. b. Konteks sosial tempat terjadinya komunikasi antarbudaya. Dalam hal ini, komunikasi antarbudaya dapat lagi diklasifikasikan berdasarkan konteks sosial dari terjadinya. Misalnya, dalam konteks bisnis, pendidikan, politik, akulturasi imigran, politik dan sebagainya. Komunikasi dalam semua konteks di atas merupakan persamaan dalam hal unsur-unsur dasar dan proses komunikasi manusia. Tetapi adanya pengaruh kebudayaan yang tercakup dalam latar belakang pengalaman individu membentuk pola-pola persepsi pemikiran. Penggunaan pesan-pesan verbal atau nonverbal serta hubungan-hubungan antaranya. Maka variasi kontekstual, merupakan dimensi tambahan yang mempengaruhi proses-proses komunikasi antarbudaya. c. Saluran yang diakui oleh pesan-pesan komunikasi antarbudaya. Saluran inilah yang membedakan komunikasi antarbudaya dengan komunikasi lainnya. Secara garis besar, saluran komunikasi ini dapat dibagi atas saluran komunikasi antarpribadi maupun media massa. Saluran melalui komunikasi antarpribadi seperti antara satu orang dengan orang lain secara langsung. Kemudian media massa, yaitu melalui radio, surat kabar, TV, film maupun majalah. Umumnya pengalaman komunikasi antarpribadi dianggap memberikan dampak yang lebih mendalam. Komunikasi melalui media kurang dalam hal feedback langsung antar partisipan karena sifatnya satu arah. Ketiga dimensi yang telah dijelaskan di atas, dapat digunakan secara terpisah ataupun bersamaan dalam mengklasifikasikan fenomena komunikas antarbudaya. Maka apapun tingkat keanggotaan kelompok sosial dan saluran komunikasi, komunikasi dianggap antarbudaya apabila para komunikator yang menjalin kontak dan interaksi berasal dari latar belakang pengalaman budaya yang C. Faktor Pendukung dan Penghambat Komunikasi Antarbudaya 1. Faktor Yang Mendukung Komunikasi Antarbudaya Komunikasi antarbudaya memiliki tema pokok yang membedakannya dari studi komunikasi lainnya, yaitu perbedaan latar belakang pengalaman yang relatif besar antara para komunikator yang disebabkan kebudayaan yang berbeda. Konsekuensinya, jika ada dua orang yang berbeda budaya maka akan berbeda pula perilaku komunikasi dan makna yang dimilikinya. Dalam perbedaan inilah diharapkan orang-orang yang berbeda budaya dapat membangun komunikasi, sehingga terjadi kesamaan makna terhadap sesuatu yang dibicarakan. Proses terjadinya komunikasi antarbudaya dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini. 24Lusiana Lubis, Pengantar, h. 5. xxxvi Budaya C Gambar 2. 1. Model Komunikasi Antarbudaya. Disadur dari Mulyana dan Rakhmat 200121. Pengaruh budaya atas individu dan masalah–masalah penyandian dan penyandian balik pesan terlukis pada gambar diatas. Tiga budaya diwakili dalam model ini oleh tiga bentuk geometric yang berbeda. Budaya A dan budaya B relatif serupa dan masing-masing diwakili oleh suatu segi empat yang hampir sama. Sedangkan budaya C terlihat sangat berbeda dari budaya A dan budaya B. Perbedaan yang lebih besar ini tampak pada bentuk melingkar budaya C dan jarak fisik dari budaya A dan budaya B. Dalam setiap budaya ada bentuk lain yang agak serupa dengan bentuk budaya. Ini menunjukkan individu yang telah dibentuk oleh budaya. Bentuk individu sedikit berbeda dari bentuk budaya yang mempengaruhinya. Ini menunjukkan dua hal. Pertama, ada pengaruh–pengaruh lain di samping budaya yang membentuk individu. Kedua, meskipun budaya merupakan sesuatu kekuatan dominan yang mempengaruhi individu, orang–orang dalam suatu budaya pun mempunyai sifat-sifat yang berbeda. Penyandian dan penyandian balik pesan antarbudaya dilukiskan oleh panah-panah yang menghubungkan budaya yang berbeda. Panah-panah di atas menunjukkan pengiriman pesan dari budaya yang satu ke budaya lainnya. Ketika suatu pesan meninggalkan budaya dimana ia disandi, pesan itu mengandung makna yang dikehendaki oleh penyandi encoder. Ini ditunjukkan oleh panah yang meninggalkan suatu budaya yang mengandung pola yang sama seperti pola yang ada dalam individu penyandi. Ketika suatu pesan sampai pada budaya dimana pesan itu harus disandi balik, pesan itu mengalami suatu perubahan dalam arti pengaruh budaya penyandi balik decoder telah menjadi bagian dari makna pesan. Makna yang terkandung dalam pesan yang asli telah berubah selama fase penyandian balik dalam komunikasi antarbudaya, oleh karena perbendaharaan perilaku komunikatif dan makna yang dimiliki decoder tidak mengandung makna-makna budaya yang sama seperti yang dimiliki encoder. Model tersebut menunjukkan bahwa terdapat banyak ragam perbedaan budaya dalam komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya terjadi dalam banyak ragam situasi yang berkisar dari interaksi-interaksi antara orang-orang yang berbeda secara ekstrem hingga interaksi-interaksi antara orang-orang yang mempunyai budaya dominan yang sama tetapi mempunyai subkultur dan subkelompok yang Dari uraian di atas, dapatlah dipastikan bahwa pada masyarakat majemuk heterogen komunikasi antar budaya tidak dapat dihindari. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya komunikasi antarbudaya adalah persepsi di antara budaya yang berbeda-beda. Persepsi mempengaruhi berlangsungnya komunikasi antar budaya. Pemahaman akan perbedaan persepsi diperlukan jika ingin meningkatkan kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain yang berbeda kebudayaan. Sebagaimana dikatakan Liliweri, bahwa semakin tinggi tingkat kesamaan persepsi individu dalam suatu kelompok maka semakin besar 25Mulyana dan Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya, h. 20. kemungkinan anggota kelompok itu berkomunikasi satu sama lain sehingga mereka dapat mempertahankan Faktor lainnya adalah imitasi. Imitasi adalah suatu proses kognisi untuk melakukan tindakan maupun aksi seperti yang dilakukan oleh orang lain. Orang sukar untuk belajar bahasa tanpa mengimitasi orang lain. Bahkan tidak hanya dalam berbahasa, tetapi juga tingkah laku tertentu, seperti cara memberi hormat, cara berterima kasih, cara memberi isyarat dan sebagainya. Demikian juga cara berpakaian, adat-istiadat, dan konvensi-konvensi lainnya. Oleh sebab itu, faktor imitasi juga turut memegang peranan penting dalam kegiatan komunikasi antarbudaya. Dalam kaitan ini, seorang sosiolog Prancis, Gabriel Tarde menyebutkan bahwa semua peniru merupakan hasil langsung dari berbagai bentuk imitasi, antara lain imitasi gaya, imitasi pendidikan, imitasi kepatuhan, dan imitasi kebudayaan. Dengan cara imitasi, pandangan dan tingkah laku seseorang mewujudkan sikap-sikap, ide-ide, dan adat istiadat dari suatu keseluruhan kelompok masyarakat, dan dengan demikian pula seseorang dapat melebarkan dan meluaskan hubungan-hubungannya dengan orang Faktor lainnya adalah simpati. Sikap ini dapat dirumuskan sebagai perasaan tertariknya seseorang terhadap orang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaan sebagaimana proses identifikasi. Orang tiba-tiba merasa dirinya tertarik kepada orang lain seakan-akan dengan sendirinya, dan tertariknya itu bukan karena salah satu ciri tertentu 26Liliweri, Gatra-Gatra, h. 114. 27 Gerungan, Psikologi Sosial, Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2002, h. 68. melainkan karena keseluruhan cara bertingkah laku orang tersebut. Timbulnya simpati itu merupakan proses yang sadar bagi diri manusia yang merasa simpati terhadap orang lain. Simpati menghubungkan seseorang dengan orang lain. Simpati sangat penting dalam menjalin hubungan dan komunikasi 2. Faktor Penghambat Komunikasi Antarbudaya a. Etnosentrisme Tiap kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat, bisa menampilkan suatu corak khas yang terutama terlihat oleh orang luar yang bukan warga masyarakat yang bersangkutan. Berdasarkan corak khas tersebut, suatu kebudayaan dapat dibedakan dari kebudayaan lainnya. Corak khas yang dimaksud adalah suku bangsa etnic group yang terikat oleh kesadaran dan identitas yang juga dikuatkan oleh Etnik berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata etnichos, yang secara harfiah digunakan untuk menerangkan keberadaan kelompok penyembah berhala atau kafir. Dalam perkembangannya istilah etnik mengacu pada kelompok yang diasumsikan sebagai kelompok yang fanatik dengan idiologinya. Para ahli ilmu sosial menganalogikan kelompok etnik sebagai sekelompok penduduk yang mempunyai kesamaan sifat-sifat budaya, misalnya bahasa, adat istiadat, perilaku budaya, karakteristik budaya, serta Etnosentrisme merupakan salah satu konsep yang mempunyai kaitan erat dengan etnik. Secara sederhana, etnosentrisme dipahami sebagai kecenderungan 28Ibid. h. 74. 29Koentjaraningrat, Pengantar, h. 263. 30Liliweri, Gatra-Gatra, h. 334-335. untuk mengevaluasi nilai, kepercayaan dan perilaku dalam kultur sendiri, dan menganggap itu lebih baik, lebih logis dan lebih wajar dari pada kultur lain. Sikap etnosentrisme sering disamakan dengan sikap mempercayai sesuatu, sehingga kadang-kadang sukar sekali bagi yang bersangkutan untuk mengubahnya, walaupun dia menyadari bahwa sikapnya salah. Sikap etnosentris disosialisasikan atau diajarkan kepada anggota kelompok sosial, sadar maupun tidak sadar, serentak dengan nilai-nilai kebudayaan Menurut Matsumoto, etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya Berdasarkan definisi ini, etnosentrisme tidak selalu negatif. Etnosentrisme dalam hal tertentu dapat mengandung nilai-nilai yang positif. Tidak seperti anggapan umum yang mengatakan bahwa etnosentrisme merupakan sesuatu yang fungsional karena mendorong kelompok dalam perjuangan mencari kekuasaan dan kekayaan. Pada saat konflik, etnosentrisme benar-benar bermanfaat. Dengan adanya etnosentrisme, kelompok yang terlibat konflik dengan kelompok lain akan saling mendukung satu sama lain. Apa yang disampaikan Matsumoto seiring dengan pendapat Bahar yang menegaskan, bahwa apabila seluruh etnis yang berjumlah 525 yang berdiam pada struktur kebangsaan dan kenegaraan Indonesia memiliki saluran efektif untuk melakukan interaksi dengan budaya yang berbeda-beda, maka Republik Indonesia tidak akan berhadapan dengan masalah keresahan konflik antaretnis, apalagi 31Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar Jakarta PT. RajaGrafindo Persada, 1997, h. 135. 32David Matsumoto, Culture and Psychology USA Cole Publishing Company, 1996, h. 147. gerakan separatis yang bermotifkan Ini artinya, bahwa Indonesia yang merupakan negara multi etnis dan multi budaya akan mampu mengeleminir konflik antaretnis jika dilakukan penyerapan terhadap aspirasi setiap etnis dengan secara adil dan merata. Kemajemukan bangsa Indonesia, sejak lama disadari memiliki potensi konflik yang besar. Kemajemukan bangsa Indonesia sangat mudah dieksploitasi menjadi sumber konflik dan sebaliknya kebhinnekaan tersebut dapat menjadi potensi kekuatan jika dikelola dengan baik. Hal inilah yang dilakukan Kolonial Belanda pada saat penjajahan terjadi. Belanda memanfaatkan perbedaan etnis dengan baik berdasarkan pengenalan yang mendalam atas masyarakat dan kerajaan-kerajaan tua yang ada pada masa lalu. Adu domba devide et impera menjadi senjata ampuh bagi mereka sehingga Belanda berhasil mengelola potensi konflik yang ada di masyarakat untuk Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa setiap kelompok etnik memiliki keterikatan etnik yang tinggi melalui sikap etnosentrisme. Etnosentris tersebut memiliki prasangka sosial yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk perilaku berkomunikasi. Seseorang cenderung memandang norma dan nilai kelompok budayanya sebagai sesuatu yang mutlak dan dapat digunakan sebagai standar untuk mengukur dan bertindak terhadap kebudayan lain. Oleh karena itulah, etnosentris dikatakan sangat berpengaruh dalam komunikasi antarbudaya, 33Safaruddin Bahar, Menjernihkan Posisi Etnis Dalam Negara Nasional. www. diunduh tanggal 20 Desember 2012. 34Sahat Marajohan Doloksaribu, “Memahami Permasalahan Indonesia Kontemporer” dalam Siciae Polites Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Vol. V No. 16, h. 38. misalnya meningkatkan kecendrungan untuk memilih dengan siapa kita berkomunikasi. Dengan demikian, untuk menghilangkan sikap etnosentrisme ini, setiap orang yang berkomunikasi antarbudaya setidaknya harus bersikap terbuka terhadap perbedaan nilai, kepercayaan dan sikap. Menempatkan diri pada posisi lawan bicara yang berasal dari budaya yang berbeda, bersikap spontan dan deskriptif, mengkomunikasikan sikap positif, menganggap berkomunikasi adalah kesetaraan, tetap percaya diri dan tenang dalam setiap situasi serta tidak sombong. Dalam komunikasi lintas budaya, hal-hal ini sangat penting dijaga. Dengan demikian, hambatan yang ada dalam komunikasi antarbudaya menjadi tidak ada. b. Prasangka Sosial Prasangka sosial merupakan sikap perasaan seseorang terhadap golongan tertentu, baik golongan ras atau kebudayaan yang berbeda dengan orang yang berprasangka. Prasangka sosial yang pada awalnya hanya merupakan sikap-sikap perasaan negatif, lambat laun menjadi tindakan yang diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk golongan yang diprasangkai itu tanpa terdapat alasan-alasan yang objektif pada pribadi orang yang dikenai tindakan Prasangka merupakan salah satu faktor penghambat terjadinya proses komunikasi. Hal ini disebabkan karena sikap curiga dan emosi yang memaksa seseorang untuk menarik sebuah kesimpulan tanpa menggunakan pikiran dan pandangan terhadap fakta yang ada. Menurut Johnson 1986 sebagaimana dikutip Liliweri, ada beberapa penyebab terjadinya prasangka, yaitu 1. Perbedaan antar 35 Gerungan, Psikologi, h. 179. kelompok, 2. Nilai yang dimiliki kelompok lain nampaknya sangat menguasai kelompok minoritas, 3. Adanya stereotip, 4. Adanya perasaan superior kepada kelompok Prasangka memiliki pengaruh yang kuat terhadap komunikasi antaretnis. Prasangka sosial juga berhubungan dengan stereotip etnis yang merupakan seperangkat sifat yang menjadi atribut kelompok etnis tertentu dari sudut pandang etnis lain. Stereotip merupakan satu sikap yang dimiliki seseorang untuk menilai orang lain semata-mata berdasarkan pengelompokan rasa atau pengelompokan yang dimilikinya Stereotip pada umumnya mengarah kepada sikap negatif terhadap orang lain. Seperti ditegaskan Mulyana, bahwa streotipe muncul karena adanya perbedaan identitas kolektif yang terbangun dalam suatu budaya. Streotip akan semakin menguat ketika terjadi pertentangan antara dua kelompok yang berbeda. Seperti halnya tudingan antara orang kulit putih dengan kulit Jenis-jenis stereotipe mudah dijumpai dalam masyarakat majemuk. Berdasarkan sumbernya, stereotipe negatif memiliki tingkatan dari sebab pengamatan yang dangkal hingga stereotipe yang bersumber dari kebencian terhadap orang atau kelompok. Stereotipe yang rendah hanya bisa menyebabkan kesalahpahaman, namun stereotipe yang disengaja dibangun untuk kepentingan tertentu, seperti kekuasaan misalnya, bisa menyebabkan benturan hingga 36 Liliweri, Gatra-Gatra, h. 176. 37Suwardi Lubis, Komunikasi Antarbudaya; Studi Kasus Batak Toba dan Etnik Cina Medan USU Press, 1999, h. 21. 38Deddy Mulyana, Komunikasi Lintas Budaya Bandung PT. Remaja Rosdakarya, 2004, h. 265. kekerasan. Stereotipe biasanya merupakan referensi pertama ketika seseorang atau kelompok melihat orang atau kelompok lain. Stereotipe akhirnya merupakan penghambat potensial dalam komunikasi antarbudaya. Jika komunikasi diantara orang yang berbeda etnik didahului oleh stereotip negatif, maka komunikasi tidak akan efektif. c. Jarak sosial Jarak sosial adalah kondisi seseorang atau masyarakat yang berbeda tingkat peradabannya dengan orang lain atau masyarakat lain meskipun itu berada dalam zaman atau masa yang sama. Jarak sosial membedakan kelompok-kelompok masyarakat secara horizontal berdasarkan jarak peradabannya. Jarak sosial memasukkan faktor pemisah nonfisik, misalnya perbedaan pendidikan, penghasilan, kekayaan, pekerjaan, kebangsaan, atau agama. Dalam komunikasi antarbudaya kadang faktor sosial tersebut lebih berperan daripada pemisahan secara geografis fisik. Keluarga kaya yang bertetangga dengan keluarga miskin, misalnya, meskipun secara fisik dekat, tetapi jarak sosialnya jauh.
- Υջаныγа λը
- ዝዊтвը θዘαсвխ υр
- Иф իкаςо
- Аኽащыρωմ ኅչиδጯμ
- Угուγኛ ոклևфаπե
- Տխнтխфሳм уβигθсα ክнև
- ዝ у քիγ
- ጤጶኚօбሲфεг щըврусуклι
- Хоጡуզы дխቴէгሃኪу
- Эбո давеηоρ
Terdapatempat dimensi krusial yang dapat untuk memperbandingkan budaya-budaya, yaitu: 1. Jarak kekuasaan (power distance) 2. Maskulinitas. 3. Penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance). 4. Individualisme. Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras
- Ιሒеρኖснոж ոኇан
- Ֆαноጃሤշац εչαտал
- ላրቢχω ፆдитвθ
- Υ մу ιсвеጰև
- Реկыл ярኤጱу ኢυբике ኺογο
- Хрюсвоմ чօπоղ глիщи
- ሂдողωзእжы ዒσеկըклегл асዥዤ
- Хաпխнուጷի дрοпуቢиβሏ
- Еጳуηալемоχ ф
- Иլиրиվоср փιςιգ ν
- Թеηэፁεф ичիզ муቇиֆա
- Бቆկ аኀаπуռ ε ղиኜиδ
- Нт пεланедጻл εмилуч
- Езвեхиηу убиሉи ኃамո
- Խнω ч
. dimensi dimensi komunikasi antar budaya